haiii blogger maniaa!! lama tak bersua hehe..^_^,, banyak banget yg pengen aku bagikan..ada banyak kisah hidup yg selama 2 tahun belakangan ini saya jalani..banyak orang yang gak tahu, saya rasa disinilah tempat yg aman dari semua medsos buat curhatt hehe(^__*).pada saat tahun lalu begitu banyak hal yg kadang buat aku galauu,,alayy,,,happyy..semua secara silih berganti datanggg..skrg dimulai dari galau dulu yaahh??...hmmm Galau?? pertama kali saya denger kata galau(wow kata yg sangat complicated mnurut saya) hehe tapi yg saya alami bener2 rumitt...mulai dari perkuliahan yang sangaat padat dengan tugas yg bejibunnn sampai2 kadang lupa makann,,,tidur gak pernah enakk,kepala yg semakin panas pada saat menghafall sekian banyak pelajaran dalam satu tubuh manusia yg kelihatanx wahh hanya 1 orang tapi rumitx minta ampunn beudhhh..hafalinx itu bagaikan menghafal mantra kek dalam novel harry potter...begitulahh yg terjadi(ini salah satu menjadi kegalauanku sebagai mahasiswa rempong) tetapi kadang dalam kelemahanku disitu terjadi pemulihan kekuatan yg saya rasakan sendiri,,mungkin krn doaaa juga hehe(because of Jesus defenitely)...kemudian selain sebagai mahasiswa galau itu datang memang dalam berbagai bentuk (hmm sebenarx saya malas umbar disini tapi hati kecil bilang iaa loee cerita aja disini,,hehe saya masih nurutin kata hati nurani...one day saya kenal dengan seseorang but cuman sebentar ajahh seperti sekejap mata saja perkenalan singkat itu,,awalx bahagia,,,banyak harapan,,,perbedaan jelas ada,, namun semua itu berakhirrr ricuhhh... saya jelasin kalo saya blum cukup dewasa,, jadi wajar kalo kita kadang beda pendapat,,saya gak tahu apakah dia ngeliat kondisiku yg seperti ini atau apa,,namun dia udah jenuhh bgt,,,sakit datang pada saat ditlp, disms, gak dihiraukannn ,,berkali minta maaf gak diterima,,bener2 gak dianggap...sakit skalii rasanya..... saya baru tahu kalau hubungan seperti itu gak bakalan bertahan lama,,,, cepet basii :(,,............(to be continiuee)
OPtikus PSPD 2010
seru abiessss
Jumat, 04 Januari 2013
Rabu, 02 Januari 2013
proposal blok 13
“HUBUNGAN ANTARA PERDARAHAN AKIBAT
RUPTUR UTERI DENGAN KEMATIAN IBU POSTPARTUM DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2010-2012”

DISUSUN OLEH :
WILLIAM BUNGA DATU
G 501 10 063
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS TADULAKO
PALU
2012
BAB
I
PENDAHULUAN
A.Latar
Belakang
Obstetri adalah “ bidang yang
berdarah-darah” (bloody bussiness).Meski angka kematian ibu hamil telah
berkurang secara drastis dengan tindakan rawat inap bagi ibu yang melahirkan
dan tersedianya darah untuk transfusi, kematian akibat perdarahan masih
menonjol pada sebagian besar laporan kematian dinegara-negara maju.di Amerika
Serikat sejak tahun 1979 sampai 1992, centers of disease control and prevention
menganalisis 4915 kematian ibu hamil yang tidak terkait abortus dari pregnancy
mortality surveilence system (Chichalki dkk, 1999).Mereka mendapatkan bahwa
perdarahan merupakan kausa langsung pada sekitar 30 % kasus kematian
tersebut.Menurut Bonnar (2000), perdarahan adalah faktor utama pada kematian
ibu hamil di Inggris antara tahun 1985 dan 1996.Tidak diragukan lagi bahwa
telah terjadi kemajuan besar dalam kematian akibat perdarahan dengan modernisasi bidang obstetri di Amerika
Serikat.Sebagai contoh, Sachs dkk. (1987) melaporkan bahwa kematian akibat
perdarahan obstetris di Massachusetts menurun sepuluh kali lipat dari
pertengahan tahun 1980-an.
Sayangnya, walaupun hasil membaik,
wanita dari golongan miskin dan minoritas terus meninggal akibat perdarahan dan
penyulitnya dengan angka tinggi.Dalam laporan dari Centers for Disease Control
and Prevention yan disebut diatas, terjadi peningkatan angka kematian akibat
perdarahan sebesar tiga kali lipat pada wanita Amerika-Afrika dibandingkan
dengan kaukasia.Dalam sebuah analisis serupa terhadap 3777 kematian
akibat-kehamilan dari negara-negara bagian yang mencakup populasi Hispanik
dalam sertifikat kematiannya, Hopkins dkk.(1999) melaporkan bahwa perdarahan
merupakan penyebab kematian ibu pada 20 persen kasus.Mereka memperlihatkan
adanya perbedaan angka kematian pada wanita Amerika-Afrika dan Hispanik
dibandingkan wanita kaukasian.
Perdarahan obstetri dapat terjadi
setiap saat, baik selama kehamilan, persalinan, maupun masa nifas. Oleh karena
itu setiap perdarahan yang terjadi dalam masa kehamilan, persalinan maupun
nifas harus dianggap sebagai suatu keadaan akut dan serius, karena dapat
membahayakan ibu dan janin (Khoman, 1992).
Perdarahan post
partum merupakan penyebab kehilangan darah serius yang paling sering dijumpai
di bagian obstetrik. Sebagai faktor penyebab langsung kematian ibu perdarahan
post partum merupakan penyebab sering terdapat dari keseluruhan kematian akibat
perdarahan obstetrik yang disebabkan dari perdarahan post partum, plasenta
previa, solusio plasenta, kehamilan ektopik terganggu, perdarahan akibat
abortus dan ruptura (Cunningham, hal 19).
Banyak faktor yang
mempunyai arti penting baik sendiri maupun secara gabungan di dalam menimbulkan
perdarahan post partum dini. Paritas tinggi merupakan salah satu faktor
predisposisi untuk tingginya perdarahan post partum dini (Cunningham, hal 19),
dimana wanita dengan paritas tinggi menghadapi resiko perdarahan akibat atonia
uteri yang semakin meningkat (Cunningham, hal 19).
Berdasarkan
uraian di atas peneliti tertarik untuk membuat penelitian dengan judul “HUBUNGAN ANTARA PERDARAHAN AKIBAT RUPTUR
UTERI DENGAN TINGKAT MORTALITAS IBU INPARTU DI RSUD UNDATA PALU TAHUN 2012”.
B.Rumusan
Masalah
Berdasarkan ulasan diatas, dapat
ditarik rumusan masalah dalam penelitian ini, yaitu sebagai berikut : Apakah
ada hubungan antara perdarahan akibat Ruptur Uteri dengan tingkat mortalitas
ibu inpartu di RSUD Undata Palu tahun 2010-
2012 ?.
C.Tujuan
Penelitian
1.
Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan antara perdarahan akibat
ruptur uteri dengan tingkat mortalitas pada ibu inpartu.
2.
Tujuan Khusus
a. Mendiskripsikan perdarahan akibat ruptur uteri
b. Mendiskripsikan umur ibu.
c. Mendiskripsikan paritas ibu.
d. Menganalisis hubungan umur dan paritas dengan
perdarahan akibat ruptur uteri.
D.Manfaat
Penelitian
1.
Bagi Pembuat Kebijakan
Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai
masukan bagi pembuat kebijakan agar tidak terjadi kematian terutama pada kasus
perdarahan akibat ruptur uteri.
2.
Bagi Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini dapat digunakan sebagai literatur
ilmiah kedokteran Obstetri.
3.
Bagi Peneliti
Hasil penelitian diharapkan dapat meningkatkan
pengetahuan dan pengalaman penulis tentang hubungan antara perdarahan akibat
ruptur uteri dengan tingkat mortalitas pada ibu inpartu.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.Telaah Pustaka
1.Perdarahan Post Partum
Perdarahan
setelah melahirkan adalah konsekuensi perdarahan berlebihan dari tempat
implantasi plasenta, trauma di traktus genitalia dan struktur di sekitarnya,
atau keduanya.Dengan demikian , perdarahan postpartum merupakan penjelasan
suatu kejadian, dan bukan diagnosis.Di Inggris, separuh kematian ibu hamil
akibat perdarahan disebabkan oleh proses postpartum (Bonnar, 2000).Apabila
terjadi perdarahan berlebihan, harus dicari etiologi yang spesifik.Atonia uteri
,retensi plasenta-termasuk plasenta akreta dan variannya, serta laserasi
traktus genitalia merupakan penyebab sebagian besar kasus perdarahan
postpartum.Dalam 20 tahun terakhir, plasenta akreta telah mengalahkan atonia
uteri sebagai penyebab tersering perdarahan postpartum yang keparahannya
mengharuskan , dilakukannya histerektomi (Chestnut dkk., 1985 ; Clark dkk.,
1984 ; Zelop dkk, 1993).
Secara
tradisional, perdarahan postpartum didefenisikan sebagai hilangnya 500 ml atau
lebih darah setelah kala tiga persalinan selesai.Bagaimanapun, hampir separuh wanita
yang melahirkan pervaginam mengeluarkan darah dalam jumlah tersebut atau lebih,
apabila diukur secara kuantitatif.Hal ini setara dengan pengeluaran darah 1000
ml pada seksio sesarea, 1400 ml pada histerektomi sesarea elektif, dan 3000
sampai 3500 ml untuk histerektomi sesarea darurat (Chestnut dkk., 1985 ; Clark
dkk., 1984).Wanita yang secara normal mengalami hipervolemia selama hamil
biasanya akan mengalami peningkatan volume darah sebesar 30-60 persen , yang
untuk wanita berukuran tubuh rata-rata setara dengan 1-2 liter (Pritchard,
1965).Karenanya, ia dapat mentoleransi tanpa mengalami penurunan bermakna
hematokrit postpartum perdarahan saat pelahiran yang volumenya mendekati jumlah
pertambahan darah selama hamil.Pada satu penelitian rerata hematokrit
postpartum menurun sebesar 2,6-4,3 persen volume ;sepertiga wanita tidak
memperlihatkan penurunan atau malah mengalami peningkatan (Combs dkk.,
1991b).Wanita yang menjalani seksio sesarea mengalami penurunan rerata
hematokrit 4,2 persen Volume, tetapi 20 persen tidak memperlihatkan penurunan
(Combs dkk., 1991a).
Karena
itu perdarahan selama persalinan pervaginam yang sedikit banyak melebihi 500 ml
berdasarkan pengukuran yang akurat tidak selalu berarti penyimpangan.Pritchard
dkk. (1962) mendapatkan bahwa sekitar 5 persen wanita yang melahirkan
pervaginam kehilangan lebih lebih dari 1000 ml darah.Mereka juga mengamati
bahwa jumlah darah yang diperkirakan
darah yang keluar 500 ml, perdarahan postpartum terjadi pada sekitar 5
persen pelahiran.Karena itu , dibanyak institusi perkiraan perdarahan yang
lebih dari 500 ml seyogyanya menyebabkan ibu yang mengalami perdarahan
berlebihan perlu diperhatikan dan mengingatkan dokter bahwa mungkin terdapat
ancaman perdarahan yang berbahaya.Perdarahan setelah 24 jam pertama disebut
perdarahan postpartum lanjut.
2.Ruptur
Uteri
A.
Definisi
Ruptur uteri merupakan peristiwa robeknya uterus.
Kejadian ini merupakan hal yang
sangat berbahaya, yang
umumnya terjadi pada persalinan, dan kadang juga terjadi pada kehamilan tua.
B.
Etiologi
Ruptur uteri dapat terjadi sebagai akibat cedera
atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat menjadi komplikasi dalam
persalinan dengan uterus yang sebelumnya tanpa parut. Akhir-akhir ini, penyebab
ruptur uteri yang paling sering adalah terpisahnya jaringan parut akibat seksio
sesarea sebelumnya dan peristiwa ini kemungkinan semakin sering terjadi
bersamaan dengan timbulnya kecenderungan untuk memperbolehkan partus percobaan
pada persalinan dengan riwayat seksio sesarea. Faktor predisposisi ruptur uteri
lain yang sering dijumpai adalah riwayat manipulasi atau operasi traumatik,
misalnya kuretase, perforasi, dan miomektomi. Stimulasi uterus yang berlebihan
atau tidak tepat dengan oksitosin juga dapat menjadi penyebabnya, meskipun hal
ini sekarang sudah sangat jarang terjadi.Umumnya, uterus yang sebelumnya tidak
pernah mengalami trauma dan persalinan berlangsung spontan, tidak akan terus
berkontraksi dengan kuat sehingga merusak dirinya sendiri.
C.Epidemiologi
Insiden ruptur uteri mungkin cukup
bervariasi diantar insititusi.Menurut Centers for disease control and
prevention (2000), untuk tujuan surveilans pemakaian data pemulangan dari rumah
sakit tidak akurat.Walaupun frekuensi ruptur uteri dari semua kausa mungkin
tidak banyak menurun selama beberapa dekade terakhir, etiologi ruptur telah
cukup banyak berubah dan hasil akhirnya sudah jauh lebih baik.Akan tetapi,
masih dilaporkan adanya kematian ibu (Ripley, 1999).Bahkan , 20 persen kematian
ibu karena perdarahan disebabkan oleh ruptur uteri (Nagaya dkk., 2000).
Eden dkk. (1986) mengulas pengalaman
mereka delengan ruptur uteri selama periode 53 tahun di Duke University.Dari
Tahun 1931 sampai 1950 insidennya adalah
1 dari1280 pelahiran dibandingkan dengan 1 dari 2250 dari tahun 1973 sampai 1983.Rachagan
dkk. (1991) melaporkan insiden serupa sekitar 1 dari 3000 selama periode 21
tahun.Miller dan Paul (1996) melaporkan insiden sekitar 1 dari 1235 pada hampir
190.000 pelahiran di Los Angeles county-university of Southern California
women’s hospital.Lebih dari 90 persen kasus berkaitan dengan riwayat seksio
sesarea.Menurut pengalaman kami , ruptur uteri sejati, seperti yang akan
didefinisikan, telah menjadi sangat jarang.Selama periode 5 tahun dari tahun
1990 sampai 1994, ketika hampir 74.000 wanita melahirkan di Parkland Hospital,
hanya terdapat empat kasus ruptur uteri dengan insiden sebesar 1 dari 18.500
pelahiran.Angka yang rendah ini berkaitan dengan kebijakan kami untuk tidak
melakukan induksi atau augmentasi persalinan dengan oksitosin pada wanita dengan riwayat seksio sesarea.
Ruptur uteri dapat terjadi akibat
cedera atau anomali yang sudah ada, sebelumnya, atau anomali yang sudah ada
sebelumnya, atau dapat berkaitan dengan trauma, atau menjadi penyulit
persalinan pada uterus yang sebelumnya tidak memiliki parut.
Kausa tersering ruptur uteri adalah
terpisahnya jaringan parut bekas seksio sesarea sebelumnya.Keadaan ini
meningkat karena timbulnya kecenderungan untuk melakukan partus percobaan pada
kehamilan dengan riwayat seksio sesarea, dua pertiganya menjalani partus
percobaan dengan insiden ruptur uteri yang termanifestasi sebesar 0,8
persen.Dalam studi yang disebut di atas oleh Miller dan Paul (1996), hanya 11
di antara 153 kasus ruptur uteri tidak berkaitan dengan riwayat seksio sesarea
memperlihatkan risiko ruptur 3,8 persen (Chapman dkk.,1996).
Uterus yang ruptur dapat langsung
terhubung dengan rongga peritoneum (komplet) atau mungkin dipisahkan darinya
oleh peritoneum viseralis yang menutupi uterus atau oleh ligamentum latum
(inkomplet).
Kita perlu membedakan antara ruptur
dan terlepasnya (dehiscence) jaringan parut seksio sesarea.Ruptur mengacu
kepada pemisahan insisi uterus lama diseluruh panjangnya disertai ruptur
selaput ketuban sehingga rongga uterus dan rongga peritoneum dapat berhubungan.Dalam
keadaan tersebut , seluruh atau sebagian janin biasanya terjadi menonjol ke
dalam rongga peritoneum.Selain itu, dari tepi jaringan parut atau perluasan ke
bagian uterus yang sebelumnya normal, terjadi perdarahan bermakna.sebaliknya,
pada dehiscence, selaput ketuban tidak mengalami ruptur dan janin tidak
menonjol ke dalam rongga peritoneum.Biasanya, terlepasnya uterus tidak mengenai
seluruh jaringan parut uterus,
peritoneum diatasnya utuh, dan perdarahan tidak ada atau minimal.
Risiko
pada ibu berkaitan dengan apakah terjadi ruptur pada uterus utuh atau jaringan
parut seksio sesarea.Terpisahnya jaringan parut setelah partus percobaan pada
seorang wanita dengan riwayat insisi transversal belum pernah menimbulkan
kematian ibu (Flamm dkk.,1988 ; Rachagan dkk., 1991).Sebaliknya, pada 24 kasus
ruptur uteri yang pada dasarnya tidak berkaitan dengan riwayat insisi,Eden
dkk.(1986) melaporkan satu kematian ibu dan 46 persen kematian perinatal.Demikian juga, Rachagan
dkk.(1991) melaporkan angka kematian bayi hampir 70 persen pada ruptur uteri
spontan atau traumatik, morbiditas dan mortalitas perinatal dapat cukup besar
pada ruptur selama persalinan dengan riwayat insisi uterus
D.
Klasifikasi
Menurut terjadinya, ruptur uteri dibedakan menjadi
2, yaitu ruptur uteri tanpa jaringan parut, dan ruptur uteri dengan jaringan
parut.
1) Ruptur Uteri Tanpa Jaringan Parut
Ruptur uteri tanpa jaringan parut dibagi menjadi 2,
yaitu rupture uteri spontan,
dan
ruptur uteri traumatik.
-
Ruptur Uteri Spontan
Ruptur uteri spontan
ialah ruptur uteri yang terjadi pada uterus yang utuh
(tanpa jaringan parut).
Faktor utama yang menjadi penyebab hal ini ialah
persalinan yang tidak
maju karena adanya hambatan, misalnya panggul sempit
(CPD), hidrosefalus,
janin letak lintang, dan sebagainya. Hal-hal tersebut dapat
menyebabkan segmen
bawah uterus makin lama makin teregang. Ruptur uteri
terjadi saat regangan
terus bertambah melampaui kekuatan jaringan miometrium.
Faktor predisposisi
terjadinya rupture uteri spontan salah satunya ialah
multiparitas. Pada
multipara, pada miometriumnya sudah banyak terdapat
jaringan ikat yang
menyebabkan kekuatan dinding uterus menjadi kurang,
sehingga regangan yang
sedikit lebih mudah menimbulkan robekan. Pemberian
oksitosin dalam dosis
yang terlampau tinggi, atau atas indikasi yang tidak tepat,
juga dapat menyebabkan
ruptur uteri spontan .
-
Ruptur Uteri Traumatik
Ruptur uteri traumatik
merupakan ruptur uteri yang disebabkan oleh trauma.
Hal ini dapat terjadi
karena pasien jatuh, kecelakaan lalu lintas seperti tabrakan, dan lain
sebagainya. Ruptur uteri traumatik dapat terjadi setiap saat dalam kehamilan,
namun pada dasarnya ruptur uteri traumatik jarang terjadi karena otot uterus
cukup kuat untuk menahan trauma yang berasal dari luar. Walaupun uterus ternyata
sangat tahan terhadap trauma tumpul, wanita hamil yang mengalami trauma tumpul
pada abdomen harus mewaspadai timbulnya tanda-tanda ruptur uteri. Miller dan
Paul (1996) hanya melaporkan tiga kasus yang disebabkan oleh trauma pada lebih
dari 150 wanita dengan ruptur uteri. Trauma tumpul lebih besar kemungkinannya
menyebabkan solusio plasenta. Sebaliknya, luka tembus abdomen cenderung
mengenai uterus yang sedang hamil besar. Dahulu, ruptur traumatik sewaktu
persalinan sering disebabkan oleh ekstraksi atau versi poladik interna. Kausa
lain ruptur uteri traumatik adalah persalian dengan forceps yang sulit,
ekstraksi bokong, dan pembesaran janin yang tidak lazim, misalnya pada hidrosefalus
.Yang lebih sering terjadi ialah ruptur uteri violenta. Ruptur uteri violenta
biasanya disebabkan oleh karena distosia, karena adanya regangan segmen bawah
uterus dan usaha vagina untuk melahirkan janin,sehingga terjadi ruptur uteri.
Ruptur uteri violenta ini biasanya terjadi pada versi ekstraksi letak lintang
yang dilakukan bertentangan dengan syarat-syarat dilakukannya, tindakan tersebut,
kemudian bisa juga terjadi pada proses embriotomi dan ekstraksi dengan cunam
yang sukar .
2) Ruptur Uteri dengan Jaringan Parut
Ruptur uteri tipe ini lebih sering terjadi pada
bekas parut seksio sesarea. Peristiwa
ini jarang timbul pada uterus yang telah dioperasi
untuk mengangkat mioma
(miomektomi), dan lebih
jarang lagi pada uterus dengan parut karena kerokan yang
terlampau dalam pada
dinding uterus, seperti pada kuretase. Diantara jenis parut
bekas seksio sesarea,
parut yang terbentuk post seksio sesarea tipe klasik lebih sering
menyebabkan ruptur
uteri dibandingkan bekas parut seksio sesarea tipe profunda.
Perbandingan
insidensinya ialah 4:1. Hal ini disebabkankan oleh karena luka pada
segmen bawah uterus
menyerupai daerah uterus yang lebih tenang, dan dalam masa
nifas dapat sembuh
dengan baik, sehingga jaringan parut yang terbentuk setelah masa
penyembuhan menjadi
lebih kuat dibandingkan dengan jaringan parut yang terbentuk
pada post seksio
sesarea tipe klasik. Ruptur uteri pada parut post seksio sesarea klasik
juga lebih sering
terjadi pada kehamilan tua, sebelum persalinan dimulai. Sedangkan
pada parut post seksio
sesarea profunda umumnya terjadi saat persalinan.
Menurut lokasinya,
ruptur uteri dapat dibedakan menjadi :
·
Korpus Uteri
Biasanya
terjadi pada rahim yang sudah pernah mengalami operasi, seperti seksio
sesarea klasik
(korporal) atau miomektomi.
·
Segmen Bawah Rahim
Biasanya terjadi pada
partus yang sulit dan lama (tidak maju). SBR tambah lama
tambah regang dan tipis
dan akhirnya terjadilah ruptur uteri.
·
Serviks Uteri
Biasanya terjadi pada
waktu melakukan ekstraksi forsep atau versi dan ekstraksi,
sedang pembukaan belum
lengkap.
·
Kolpoporeksis-Kolporeksis
Robekan – robekan di
antara serviks dan vagina. Menurut waktu terjadinya, etiologi ruptur uteri
dapat dibagi menjadi 2, yaitu akibat
cedera atau anomali
yang terjadi sebelum kehamilan sekarang, dan akibat cedera atau
anomali yang terjadi
selama kehamilan sekarang.
Menurut
robeknya peritoneum, ruptur uteri dapat dibedakan :
Robekan pada dinding
uterus berikut peritoneumnya (perimetrium), sehingga
terdapat hubungan
langsung antara rongga perut dan rongga uterus dengan bahaya
peritonitis.
Robekan otot rahim
tetapi peritoneum tidak ikut robek. Perdarahan terjadi subperitoneal dan bisa
meluas sampai ke ligamentum latum.
Menurut
gejala klinis, ruptur uteri dapat dibedakan:
Terlebih dahulu dan
yang terpenting adalah mengenal betul gejala dari ruptur
uteri mengancam (threatened
uterine rupture) sebab dalam hal ini kita dapat bertindak secepatnya supaya
tidak terjadi ruptur uteri yang sebenarnya.
Gejala
ruptur uteri iminens/mengancam :
partus sudah lama berlangsung
-
Ruptur uteri sebenarnya
Bila ruptur uteri yang mengancam dibiarkan terus,
maka suatu saat akan terjadilah
ruptur
uteri sebenarnya.
E.
Patomekanisme
Pada umumnya uterus
dibagi atas dua bagian besar: Korpus uteri dan servik uteri. Batas keduanya
disebut ismus uteri (2-3 cm) pada rahim yang tidak hamil. Bila kehamilan sudah
kira-kira ± 20 minggu, dimana ukuran janin sudah lebih besar dari ukuran kavum uteri,
maka mulailah terbentuk SBR ismus ini. Batas antara korpus yang kontraktil dan
SBR yang pasif disebut lingkaran dari Bandl. Lingkaran Bandl ini
dianggap fisiologik bila terdapat pada 2-3 jari diatas simfisis, bila meninggi
maka kita harus waspada terhadap kemungkinan adanya ruptur uteri mengancam.
Ruptur uteri terutama disebabkan oleh peregangan yang luar biasa dari uterus.
Sedangkan kalau uterus telah cacat, mudah dimengerti karena adanya lokus minoris
resistens
Rumus mekanisme
terjadinya ruptur uteri:
R = H + O
Dimana: R = Ruptur, H =
His Kuat (tenaga), O = Obstruksi (halangan) Pada waktu in-partu, korpus uteri
mengadakan kontraksi sedang SBR tetap pasif dan cervix menjadi lunak
(effacement dan pembukaan). Bila oleh sesuatu sebab partus tidak dapat maju
(obstruksi), sedang korpus uteri berkontraksi terus dengan hebatnya (his kuat),
maka SBR yang pasif ini akan tertarik ke atas menjadi bertambah regang dan
tipis. Lingkaran Bandl ikut meninggi, sehingga suatu waktu terjadilah
robekan pada SBR tadi. Dalam hal terjadinya ruptur uteri jangan dilupakan
peranan dari anchoring apparatus untuk memfiksir uterus yaitu ligamentum
rotunda, ligamentum latum, ligamentum sacrouterina dan jaringan parametra.
F.Diagnosis
1.)
Anamnesis dan Inspeksi
2.)
Palpasi
subkutan.
3.)
Auskultasi
Biasanya denyut jantung
janin sulit atau tidak terdengar lagi beberapa menit setelah ruptur, apalagi
kalau plasenta juga ikut terlepas dan masuk ke rongga perut.
4.)
Pemeriksaan Dalam
5.)
Kateterisasi
Hematuri yang hebat
menandakan adanya robekan pada kandung kemih.
G.
Penatalaksanaan
Untuk mencegah timbulnya ruptura uteri pimpinan
persalinan harus dilakukan dengan
cermat,
khususnya pada persalinan dengan kemungkinan distosia, dan pada wanita yang pernah
mengalami sectio sesarea atau pembedahan lain pada uterus. Pada distosia harus
diamati
terjadinya regangan segmen bawah rahim, bila ditemui tanda-tanda seperti itu persalinan
harus segera diselesaikan. Keselamatan wanita yang mengalami ruptur uteri
paling sering bergantung pada kecepatan dan efisiensi dalam mengoreksi
hipovolemia dan mengendalikan perdarahan. Perlu ditekankan bahwa syok
hipovolemik mungkin tidak bisa dipulihkan kembali dengan cepat sebelum
perdarahan arteri dapat dikendalikan, karena itu keterlambatan dalam memulai
pembedahan tidak akan bisa diterima. Bila keadaan umum penderita mulai membaik,
selanjutnya dilakukan laparotomi dengan tindakan jenis operasi:
· Histerektomi, baik total maupun subtotal.
· Histerorafia, yaitu tepi luka dieksidir lalu
dijahit sebaik-baiknya.
· Konservatif, hanya dengan tamponade dan pemberian
antibiotik yang cukup.
Tindakan
aman yang akan dipilih, tergantung dari beberapa faktor, antara lain:
· Keadaan umum
· Jenis ruptur, inkompleta atau kompleta
· Jenis luka robekan
· Tempat luka
· Perdarahan dari luka
· Umur dan jumlah anak
hidup
· Kemampuan dan
keterampilan penolong
H.
Prognosis
Harapan hidup bagi janin sangat suram. Angka
mortalitas yang ditemukan dalam
berbagai
penelitian berkisar dari 50 hingga 70 persen. Tetapi jika janin masih hidup
pada
saat
terjadinya peristiwa tersebut, satu-satunya harapan untuk mempertahankan jiwa
janin
adalah
dengan persalinan segera, yang paling sering dilakukan lewat laparotomi. Jika
tidak diambil tindakan, kebanyakan wanita akan meninggal karena perdarahan atau
mungkin pula karena infeksi yang terjadi kemudian, kendati penyembuhan spontan pernah
pula ditemukan pada kasus-kasus yang luar biasa. Diagnosis cepat, tindakan operasi
segera, ketersediaan darah dalam jumlah yang besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan
perbaikan prognosis yang sangat besar dan terapi antibiotik sudah menghasilkan
perbaikan prognosis yang sangat besar bagi wanita dengan ruptura pada uterus
yang hamil.
B.Kerangka teori
|
|
|
||||||||||
|
||||||||||
|
||||||||||
Keterangan
:
Variabel
yang tidak diteliti
C.Kerangka Konsep.
|
|||
|
Variabel bebas variabel
terikat
D.Hipotesis
Ada hubungan antara perdarahan akibat
ruptur uteri dengan tingkat mortalitas ibu postpartum di R.S Undata Palu Tahun
2012.
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1.
Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan dalam
penelitian ini adalah analitik observasional studi case control.
3.2.Lokasi
dan Waktu Penelitian
a. Lokasi
Lokasi penelitian dilakukan di
ruangan bersalin RSU Undata Palu.
b. Waktu
Waktu penelitian berlangsung
dari periode tahun 2010 sampai 2012.
3.3.
Populasidan Sampel
a. Populasi
Populasi
penelitian adalah pasien postpartum yang melahirkan di RSU Undata Palu periode
tahun 2010-2012.
b. Sampel
Kriteria Eligilibitas
Kriteria Inklusi
o
Wanita berusia 20-40 tahun atau lebih
pada saat tanggal taksiran melahirkan
o
Ibu Postpartum
o
Wanita yang melakukan persalinan di RSU
Undata Palu
Kriteria Eksklusi
o
Pasien mempunyai penyakit penyerta lain
(komobiditas)
o
Data rekam medik tidak lengkap
3.4.
Alat Pengukuran
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan data
sekunder berupa rekam medik.
3.5.
Variabel Penelitian
Variabel yang dipakai adalah variabel bebas (variabel
independent), variabel tergantung (variabel dependent), dan variabel perancu.
3.6.
Definisi Operasional
1.Ibu Postpartum
Ibu postpartum adalah seorang
wanita yang mengalami masa sesudah melahirkan.
Alat ukur : Format chek list
Cara ukur : Melihat dan mencatat rekam medis di ruang bersalin RSU Undata
Palu
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : Ibu postpartum usia muda, ibu postpartum usia produktif, ibu
postpartum
Usia tua.
2.Perdarahan akibat ruptur uteri
Perdarahan akibat Ruptur uteri merupakan
peristiwa robeknya uterus sehingga mengakibatkan perdarahan. Kejadian ini
merupakan hal yang sangat berbahaya, yang umumnya terjadi pada persalinan, dan
kadang juga terjadi pada kehamilan tua
Alat ukur : Format chek list
Cara ukur : Melihat dan mencatat rekam medis di ruang
bersalin RSU Undata Palu
Skala ukur : Ordinal
Hasil ukur : Ruptur uteri yang menimbulkan perdarahan
3.7.
Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dalam penelitian ini
adalah bentuk data sekunder, data sekunder diperoleh dari buku rekam medis di
ruang bersalin RSU Undata Palu periode 2010-2012 yang ada hubungannya dengan
masalah penelitian yang dilakukan.
3.8.Desain
Analisis Data
1.Pengolahan data
a.Editing
Memeriksa kelengkapan data, memperjelas
serta melakukan pengolahan terhadap data yang dikumpulkan .
b.Coding
Menyederhanakan data yang terkumpul dengan
cara memberi kode atau simbol tertentu.
c.Tabulating
Dari data mentah dilakukan penyesuaian data
yang merupakan pengorganisasian data
sedemikian rupa agar dengan mudah dapat dijumlah, disusun dan ditata untuk
disajikan dan dianalisis.
2.Analisis Data
a.Univariat
Analisis
univariat ini dimaksudkan untuk mendeskripsikan karakteristik pasien,
dilakukan dengan menyajikan dalam bentuk
tabel dan grafik untuk mengetahui proporsi masing-masing variabel.Adapun skala
dari masing-masing variabel adalah sebagai berikut :
Umur :
Skala Ordinal
Pekerjaan :
Skala numerik
b.Bivariat
Analisis
bivariat digunakan untuk mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas
(perdarahan akibat ruptur uteri) dan variabel terikat (kematian) dilakukan
analisis fisherman.Analisis data dilakukan dengan menggunakan program statistic
package for social science (SPSS) for MS windows versi 15.0.

Keterangan :
dengan α = 0,05.
Hasil perhitungan X2 hitung dibandingkan dengan X2
tabel. Apabila Nilai X2 hitung lebih besar dari
tabel, maka Ho
ditolak. Apabila nilai X2 hitung lebih kecil dari
tabel, maka Ho
diterima. Atau bila p value lebih kecil dari
, H0 ditolak, bila p value lebih besar dari
, H0 diterima.
Untuk mengetahui keeratan suatu
hubungan antara variabel dependen satu dengan variabel dependen yang lain
terhadap variabel independen maka dipakai rumus Koefisien Kontingensi (Contingency
Coefficient) yaitu :

Keterangan :
C = Koefisien Kontingensi
N = Jumlah semua dalam tabel
(Arikunto,
2002).
Adapun hipotesis hubungan
terdiri dari :
Ho : Tidak terdapat hubungan antara
perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat kematian ibu postpartum.
Ha : Terdapat hubungan antara
perdarahan akibat ruptur uteri dengan tingkat kematian ibu postpartum.
Kriteria penerimaan hipotesis :
Bila nilai p ≤ 0,05 berarti Ha diterima
(ada hubungan).
Bila nilai p > 0,05 berarti Ho ditolak
( tidak ada hubungan).
3.9.
Etika Penelitian
1.Anonymity
Untuk
menjaga kerahasiaan identitas responden, peneliti tidak mencantumkan nama
responden pada lembar pengumpulan data.
2.Confidentiality
Kerahasiaan
informasi dijamin oleh peneliti, hanya kelompok data tertentu yang akan
disajikan sebagai hasil.
3.10
Keterbatasan Penelitian
Seperti
yang kita ketahui begitu banyak faktor yang menyebabkan kematian pada ibu
postpartum, tidak hanya perdarahan tetapi juga dipengaruhi oleh faktor lain
seperti : usia, status gizi, penyakit kronis pada ibu.Dalam penelitian ini
peneliti hanya meneliti dari faktor perdarahan yang lebih spesifik pada
perdarahan akibat ruptur uteri.Keterbatasan dari penelitian ini adalah peneliti
tidak meneliti semua faktor predisposisi penyebab kematian pada ibu postpartum,
hal ini disebabkan karena terbatasnya waktu, dana dan tenaga dari peneliti.
BAB IV
HASIL PENELITIAN
A.
Deskripsi Data Penelitian
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan penelitian
di RSUD UNDATA mulai dari tanggal 19 Desember 2012 sampai dengan 28 Desember
2012. Penelitian ini menggunakan data sekunder yaitu rekam medis dan didapatkan
data pada tahun 2010 sampai dengan 2012 sebanyak 34 ibu yang bersalin di RSUD
Undata pada saat itu.
Tabel IV.1 Distribusi sampel yang mengalami
perdarahan akibat ruptur uteri
|
n
prosentase
|
|
Perdarahan postpartum 6 17,6 %
Tidak perdarahan postpartum 28 82,4 %
|
|
Total
34 100 %
|
Dari
34 data :
Berdasarkan
penelitian yang dilakukan, dikategorikan perdarahan postpartum bila jumlah
perdarahan >500 ml. Dari 34 data, terdapat 17,6% mengalami perdarahan
postpartum, 82,4% tidak mengalami perdarahan. Hasil penelitian dari 34 ibu
bersalin di RSUD Undata didapatkan 11 ibu dengan ruptur uteri, 45,5% meninggal karena perdarahan postpartum dan 54,5% tidak meninggal. Sedangkan ibu bersalin
yang tidak mengalami ruptur uteri ada 23 ibu dengan 4,3% meninggal akibat perdarahan
postpartum dan 95,7% tidak meninggal.
B.
Hasil Uji Penelitian
Untuk mengetahui hubungan antara perdarahan akibat
ruptur uteri dengan kematian ibu digunakan uji Fisherman (Exact test).
Hasil dari uji Fisherman dapat dilihat dalam tabel berikut ini :
Tabel
IV.2 Hasil Uji Fisherman antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian
ibu
|
Meninggal karena perdarahan postpartum
Ya tidak X2
|
|
Ruptur uteri 5 6
Tidak ruptur uteri 1 22 8,652
p (0,008)
|
|
Total 6 28
|
Dari:
34 data
Hasil
uji Fisherman (Exact test)dari out put data SPSS 15.0 sesuai tabel di
atas, nilai X2 = 8,652; p = 0,008. Hipotesis pada penelitian ini adalah ada
hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu. Untuk
menguji hipotesis apakah terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur
uteri dengan kematian ibu dengan menggunakan p value statistik uji
Fisherman p value < 0,05, maka ada hubungan antara kedua variabel.
Dari tabel IV.2 p value 0,008 < 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa
terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian ibu.
BAB V
PEMBAHASAN
A.
Deskripsi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian mengenai hubungan antara
perdarahan akibat ruptur uteri di RSUD Undata pada tanggal 19 Desember 2012
sampai dengan 28 Desember 2012 didapatkan 34 data rekam medik. Pada penelitian
ini, didapatkan ibu mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc. Dari 34
responden didapatkan 11 ibu dengan ruptur uteri, 45,5% meninggal karena
mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc dan 54,5% tidak meninggal
karena tidak mengalami perdarahan postpartum. Sedangkan 23 ibu yang tidakmengalami
ruptur uteri, 4,3% meninggal karena mengalami perdarahan postpartum lebih dari
500 cc dan 95,7% tidak meninggal karena tidak mengalami perdarahan postpartum.
Perdarahan postpartum tersebut disebabkan karena adanya cedera pada operasi
caesarean setion sehingga terjadi ruptur uteri yang menyebabkan perdarahan
(Wiknjosastro,2002).
B.
Hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian pada ibu
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa p
0,008 < 0,05 maka dapat disimpulkan terdapat hubungan antara perdarahan
akibat ruptur uteri dengan kematian ibu. Setiap ibu postpartum memiliki risiko
untuk terjadi perdarahan postpartum. Salah satu penyebab perdarahan postpartum
adalah karena ruptur uteri, yaitu dapat terjadi akibat cedera atau anomali yang
sudah ada, sebelumnya, atau anomali yang sudah ada sebelumnya, atau dapat
berkaitan dengan trauma, atau menjadi penyulit persalinan pada uterus yang
sebelumnya tidak memiliki parut (Anderson, 1994).
BAB VI
PENUTUP
A.
Simpulan
Hasil penelitian untuk mengetahui hubungan antara perdarahan
akibat ruptur uteri dengan kematian ibu, dapat disimpulkan sebagai berikut:
1.
Perdarahan postpartum dapat disebabkan oleh karena ruptur uteri.
2.
Dikatakan perdarahan postpartum apabila perdarahannya lebih dari 500 cc.
3.
Dari 34 responden didapatkan 11 ibu dengan ruptur uteri, 45,5% meninggal karena
mengalami perdarahan postpartum lebih dari 500 cc dan 54,5% tidak meninggal
karena tidak mengalami perdarahan postpartum.
4.
Terdapat hubungan antara perdarahan akibat ruptur uteri dengan kematian pada
ibu.
B.
Saran
1.
Rekomendasi bagi peneliti berikutnya untuk mengambil sampel yang lebih besar.
Daftar
Pustaka
1. Anderson, S.
1994. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-proses Penyakit.
Jakarta:
EGC
2. Departemen
Kesehatan RI. 2009. Profil Kesehatan Indonesia 2008. Jakarta:
Departemen
Kesehatan RI.
3. Dinas
kesehatan Kabupaten Wonogiri. 2010. Data Kesehatan Kabupaten
Wonogiri
2009. Wonogiri: Dinas Kesehatan Kabupaten Wonogiri.
4. Dinas
Kesehatan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. 2007. Profil Kesehatan
Provinsi
Jawa Tengah 2006. Semarang: Dinas Kesehatan Pemerintah
Provinsi
Jawa
Tengah.
5. Hidayat, A.
2009. Metode Penelitian Kebidanan dan Teknik Analisis Data.
Jakarta:
Salemba Medika.
6. JHPIEGO,
POGI, JNPKR. 2007. Asuhan Persalinan Normal. Asuhan
Essential.
Edisi
3. Jakarta: JHPIEGO, POGI, JNPKR.
7. Kenneth,I.
2009. Obstetri William: Panduan ringkas, Edisi ke-21. Jakarta:
EGC.
8. Manuaba,
I.B.G. 2001. Kapita Selekta Penatalaksanaan Rutin Obstetri
Ginekologi
dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC
9. Notoatmodjo,
S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
10. Riduwan,
Drs., M.B.A. 2007. Metode dan Teknik Menyusun Tesis. Bandung:
Alfabeta.
11. Saifuddin
AB, dkk. 2002. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan maternal
dan
neonatal. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka.
12.
Wiknjosastro, H. 2002. Ilmu Kebidanan. Jakarta: YBP-SP
Langganan:
Postingan (Atom)
